Tragedi Beruntun, Rupiah Melemah hingga Polemik Media Digital: Indonesia Sedang Masuk 'Survival Mode'?

Negeri ini kadang lucu yang jatuh bukan hanya nilai rupiah, tapi juga rasa aman dan percaya. Pagi orang bicara harga beras, siang berganti tragedi, malam ribut soal siapa menguasai narasi. Besoknya, semua seolah harus lanjut seperti biasa. Barangkali memang beginilah cara bangsa besar diuji dibuat lelah, lalu ditanya masih sanggup bertahan atau tidak.”

Oleh : Athiyah ( Ketua Bidang Media dan Komunikasi KOPRI PB PMII)

Dalam satu tahun terakhir, Indonesia menghadapi rangkaian peristiwa yang memunculkan keresahan publik secara luas.

Mulai dari tragedi kecelakaan transportasi, tekanan ekonomi akibat pelemahan rupiah, konflik global yang berdampak pada harga kebutuhan pokok, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap ruang demokrasi dan independensi media digital.

Berbagai peristiwa tersebut memunculkan narasi di tengah masyarakat bahwa Indonesia tengah berada dalam fase “survival mode”, ketika tekanan ekonomi, sosial, dan politik datang hampir bersamaan dalam waktu yang relatif singkat.

Salah satu peristiwa yang menyita perhatian publik adalah kecelakaan KRL di Bekasi Timur yang menewaskan sejumlah penumpang dari berbagai latar belakang, mulai dari guru, tenaga kesehatan, hingga mahasiswa.

Tragedi itu kembali memantik kritik terhadap sistem keselamatan transportasi publik yang dinilai belum mengalami perbaikan signifikan meski insiden serupa terus berulang.

Di media sosial, publik mempertanyakan mengapa tragedi besar kerap hanya menjadi perhatian sesaat sebelum tenggelam oleh isu lain yang lebih baru.

Di saat yang sama, masyarakat juga dihadapkan pada tekanan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah serta kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.

Konflik global yang memengaruhi harga energi dan bahan baku industri, termasuk plastik dan pangan, ikut berdampak pada biaya produksi dalam negeri.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap menurunnya daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah dan pekerja informal yang paling rentan terhadap gejolak harga.

Sorotan publik juga mengarah pada intensitas kunjungan luar negeri pejabat negara, termasuk Prabowo Subianto, di tengah situasi domestik yang dinilai sebagian masyarakat sedang tidak baik-baik saja.

Sebagian pihak memandang langkah tersebut sebagai bagian dari strategi diplomasi dan penguatan posisi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Namun kritik juga bermunculan karena pemerintah dianggap lebih fokus membangun citra eksternal dibanding menjawab keresahan publik di dalam negeri.

Dalam periode yang sama, laporan mengenai intimidasi terhadap aktivis, penangkapan demonstran, hingga dugaan kekerasan aparat kembali menjadi sorotan. Situasi ini memunculkan diskusi mengenai menyempitnya ruang kritik dan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap praktik represif di tengah iklim politik yang semakin sensitif.

Sejumlah pengamat bahkan menilai pola tersebut mengingatkan masyarakat pada periode-periode ketika negara menghadapi tekanan ekonomi dan sosial besar di masa lalu.

Polemik “Homeless Media” dan Perebutan Ruang Narasi

Di tengah situasi tersebut, polemik baru muncul setelah Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI menggandeng sejumlah platform digital dalam forum bernama Indonesia New Media Forum (INMF).

Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menyebut langkah itu sebagai upaya memperluas komunikasi pemerintah di era digital, seiring perubahan pola konsumsi informasi masyarakat dari media konvensional ke platform digital dan media sosial.

Beberapa nama platform digital yang disebut dalam forum tersebut antara lain Narasi, Pandemic Talks, Nanti Kita Sambat Hari Ini, dan Menjadi Manusia.

Namun tak lama berselang, sejumlah platform tersebut memberikan klarifikasi bahwa mereka tidak pernah dihubungi maupun memiliki kerja sama formal dengan pemerintah terkait forum tersebut.

Perdebatan publik pun meluas. Sebagian masyarakat menilai pemerintah tengah berupaya menyesuaikan strategi komunikasi publik dengan perkembangan media digital.

Sementara sebagian lain khawatir langkah tersebut dapat mengaburkan batas antara media independen dan saluran komunikasi pemerintah.

Indonesia New Media Forum (INMF) kemudian menegaskan bahwa forum tersebut merupakan inisiatif independen komunitas media baru dan bukan bentukan pemerintah.

Meski demikian, polemik itu telah memicu diskusi lebih luas mengenai independensi media digital, netralitas informasi, hingga potensi kedekatan media dengan kekuasaan.

Di media sosial, reaksi publik bermunculan dari berbagai komunitas digital yang mempertanyakan arah ruang informasi Indonesia ke depan.

Rangkaian tragedi, tekanan ekonomi, keresahan sosial, hingga polemik media digital menunjukkan bahwa Indonesia saat ini tidak hanya menghadapi persoalan ekonomi dan sosial, tetapi juga pertarungan narasi di ruang informasi.

Di tengah derasnya arus berita dan cepatnya pergantian isu, banyak tragedi besar hanya bertahan beberapa hari sebelum tergeser oleh peristiwa baru.

Situasi ini memunculkan pertanyaan yang semakin sering terdengar di masyarakat apakah publik sedang menyaksikan rangkaian kejadian yang berdiri sendiri, atau sebuah pola krisis yang perlahan terbentuk di tengah melemahnya daya tahan sosial masyarakat Indonesia?