International Women’s Day di Tengah Ancaman Perang Dunia Ketiga

"Ketika dunia sibuk menghitung kekuatan senjata dan strategi perang, ada satu hal yang sering luput dari perhatian siapa yang menjaga kehidupan tetap berlangsung. Di tengah ancaman konflik global, perempuan justru menjadi penjaga harapan itu.”

Ditulis Oleh: Athiyah (Ketua Bidang Media Komunikasi dan Informasi KOPRI PB PMII)

KOPRI.ID - Di saat dunia kembali dipenuhi bayang-bayang konflik global, peringatan International Women’s Day tahun ini hadir dengan nuansa yang berbeda. Jika biasanya 8 Maret dirayakan sebagai momentum merayakan capaian dan perjuangan perempuan, tahun ini peringatan tersebut juga mengajak kita merenung bagaimana posisi perempuan ketika dunia kembali berbicara tentang perang?

Tanggal 8 Maret selalu datang dengan pesan yang sama merayakan perempuan. Namun tahun ini, Hari Perempuan Internasional terasa berbeda. Dunia sedang berdiri di tepi ketegangan yang semakin mengkhawatirkan. Konflik bersenjata meningkat di berbagai wilayah dari Timur Tengah, Ukraina, Sudan, hingga ketegangan geopolitik antara kekuatan besar dunia. 

Banyak analis bahkan mulai menyebut satu istilah yang selama beberapa dekade terasa jauh dari imajinasi kita: ancaman Perang Dunia Ketiga. Di tengah situasi seperti ini, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan di mana posisi perempuan ketika dunia kembali berbicara tentang perang?

Sejarah menunjukkan bahwa perang hampir selalu dirancang oleh struktur kekuasaan yang maskulin. Namun dampaknya paling dalam justru dirasakan oleh perempuan dan anak-anak.

Data UN Women menunjukkan bahwa lebih dari 600 juta perempuan dan anak perempuan hidup di wilayah konflik saat ini. Jumlah ini meningkat lebih dari 50 persen dalam satu dekade terakhir.

Ketika konflik terjadi, perempuan tidak hanya menghadapi kehilangan rumah dan keamanan, tetapi juga meningkatnya risiko kekerasan seksual, pernikahan paksa, serta hilangnya akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan.

Perang bukan hanya menghancurkan kota. Ia juga menghancurkan kehidupan yang paling rapuh. Kondisi ini dapat kita lihat hari ini di berbagai konflik global. Di Gaza, perempuan harus melahirkan di tengah 

keterbatasan fasilitas medis. Di Sudan, ribuan perempuan mengungsi tanpa perlindungan yang memadai. Di Ukraina, jutaan perempuan menjadi pengungsi lintas negara demi menyelamatkan keluarga mereka.

Ironisnya, meskipun perempuan menanggung dampak terbesar dari perang, mereka hampir tidak pernah dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait perdamaian.
 

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, perempuan hanya terlibat dalam sekitar 13 persen proses negosiasi perdamaian global.

Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa perjanjian damai yang melibatkan perempuan memiliki peluang 35 persen lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang.

Artinya, dunia sebenarnya tahu bahwa perempuan adalah bagian dari solusi. Namun sistem politik global masih belum memberi mereka ruang yang cukup. Di tengah ancaman eskalasi konflik global hari ini, peringatan International Women’s Day seharusnya tidak hanya menjadi seremoni simbolik.

Momentum ini semestinya menjadi pengingat bahwa keamanan dunia tidak bisa terus dibangun dengan logika militer semata.

Selama ini perempuan membawa perspektif yang berbeda dalam melihat keamanan bukan sekadar tentang kemenangan dalam perang, melainkan tentang keberlanjutan kehidupan.

Tentang bagaimana masyarakat dapat tetap hidup, anak-anak tetap belajar, dan komunitas tetap bertahan bahkan di tengah krisis.

Di banyak komunitas yang terdampak konflik, perempuan justru menjadi aktor yang menjaga kehidupan tetap berjalan. Mereka mengorganisasi bantuan, merawat keluarga, menjaga solidaritas sosial, dan dalam banyak kasus menjadi mediator perdamaian di tingkat komunitas.

Sayangnya, kontribusi ini sering kali tidak terlihat dalam narasi politik global. Karena itu, ketika dunia berbicara tentang ancaman perang yang lebih besar, mungkin sudah waktunya kita juga membicarakan sesuatu yang lebih mendasar bagaimana menghadirkan perempuan bukan hanya sebagai korban konflik, tetapi sebagai aktor utama dalam membangun perdamaian.

Jika sejarah perang terus ditulis tanpa perspektif perempuan, kita mungkin hanya akan mengulang siklus yang sama tentang kekerasan, kehancuran, dan generasi yang harus memulai kembali dari puing-puing.

Hari Perempuan Internasional seharusnya mengingatkan kita bahwa masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki senjata paling kuat, tetapi juga oleh siapa yang memiliki keberanian untuk menjaga kehidupan tetap berlangsung.

Dan dalam banyak krisis kemanusiaan di dunia hari ini, perempuan telah menunjukkan bahwa mereka memiliki keberanian itu.

Selamat Hari Perempuan Internasional.
Di tengah dunia yang gelisah, perempuan tetap menjadi penjaga harapan agar kehidupan terus utuh.