Hari Kebangkitan Nasional atau Hari Bertahan Hidup bagi Anak Muda?

kamar kontrakan sempit, di halte yang masih basah oleh hujan sepulang kerja, banyak anak muda Indonesia justru sedang belajar satu hal yang paling melelahkan untuk bertahan hidup.

Oleh : Anastasya Anggraeni ( Kontributor KOPRI.ID)

Mereka disebut generasi masa depan, tetapi hidupnya habis untuk menanggung masa lalu dan menyelamatkan hari ini.

Hari Kebangkitan Nasional 2026 mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara.”

Tema yang ditetapkan pemerintah tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa bergantung pada bagaimana negara menjaga generasi mudanya hari ini.

Namun, di tengah semangat menjaga tunas bangsa, realitas yang dihadapi anak muda justru semakin berat.

Di saat peringatan Harkitnas berlangsung, Bank Indonesia resmi menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19–20 Mei 2026.

Dalam rilis resminya, kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya gejolak global.

Bank Indonesia juga mencatat nilai tukar rupiah pada 19 Mei 2026 berada di level Rp17.700 per dolar AS atau melemah 2,20 persen dibanding akhir April 2026.

Bagi sebagian orang, kenaikan suku bunga mungkin terdengar seperti istilah ekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun dampaknya terasa nyata, terutama bagi generasi muda.

Biaya hidup meningkat. Harga kebutuhan terus naik. Lapangan pekerjaan semakin kompetitif. Cicilan menjadi lebih berat. Di tengah situasi itu, anak muda tetap dituntut untuk optimistis, produktif, dan terlihat baik-baik saja.

Ironisnya, banyak generasi muda Indonesia hari ini bahkan tidak memiliki kesempatan untuk benar-benar bertumbuh. Mereka terlalu sibuk bertahan hidup.

Sebagian bekerja dalam sistem kontrak tanpa kepastian. Sebagian lain mengambil dua pekerjaan sekaligus agar dapur tetap menyala.

Banyak pula yang menunda pendidikan, pernikahan, bahkan mimpi-mimpi sederhananya karena keadaan ekonomi tidak memberi ruang untuk berharap terlalu jauh.

Fenomena sandwich generation juga semakin nyata. Anak muda bukan hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi turut menopang kebutuhan keluarga di tengah situasi ekonomi yang tidak stabil.

Mereka dipaksa kuat terlalu cepat, dewasa terlalu dini, dan tetap tersenyum meski hidup berjalan di bawah tekanan yang tidak ringan.

Yang lebih menyakitkan, kecemasan generasi muda sering kali dianggap berlebihan.

Padahal, hari ini banyak anak muda hidup dengan ketakutan yang nyata: takut kehilangan pekerjaan, takut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup, takut gagal, bahkan takut menghadapi masa depan.

Kesehatan mental generasi muda perlahan menjadi krisis yang sering diabaikan. Burnout dianggap kurang bersyukur. Kelelahan dianggap sebagai bentuk kelemahan.

Padahal, tidak sedikit anak muda yang sebenarnya sedang berjuang diam-diam agar tetap waras di tengah tekanan ekonomi dan sosial yang datang bersamaan.

Dalam perspektif KOPRI, perempuan muda menghadapi situasi yang lebih kompleks. Mereka dituntut mandiri secara ekonomi, tetapi masih dibebani ekspektasi sosial dan domestik secara bersamaan.

Perempuan diminta tetap kuat menghadapi keadaan, tetapi sering kali tidak diberi ruang aman untuk merasa lelah.

Karena itu, tema “Jaga Tunas Bangsa” tidak boleh berhenti sebagai slogan seremoni tahunan. Menjaga generasi muda bukan hanya tentang memberi motivasi atau pidato optimisme, tetapi memastikan mereka memiliki hidup yang layak untuk diperjuangkan.

Sebab bangsa tidak akan benar-benar bangkit jika generasi mudanya hidup dalam kecemasan setiap hari.

Kebangkitan nasional seharusnya bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang keberanian negara hadir melindungi masa depan anak mudanya dalam memberi akses kerja yang layak, pendidikan yang terjangkau, ruang aman, serta kehidupan yang manusiawi.

Karena ancaman terbesar bagi sebuah bangsa bukan hanya krisis ekonomi, melainkan hilangnya harapan generasi mudanya terhadap masa depan.

Dan hari ini, banyak anak muda Indonesia masih mencoba bertahan sambil diam-diam bertanya apakah negeri ini benar-benar sedang menjaga mereka?

“Jaga tunas bangsa bukan hanya memastikan mereka tetap hidup, tetapi juga memastikan mereka tetap memiliki harapan.”