Takzim Bukan Feodalisme, Tapi Cermin Kerendahan Hati

KOPRI.ID - Belakangan ini dunia pesantren tengah menjadi sorotan publik. Belum pulih luka batin akibat pemberitaan terkait Pesantren Al-Khoziny, kini muncul kabar terbaru yang memicu gelombang kemarahan santri melalui program Xpose Uncensored yang ditayangkan oleh salah satu TV nasional, Trans7, pada tanggal 13 Oktober 2025. Tayangan tersebut menuai kritik keras dari kalangan pesantren karena dinilai provokatif, menyesatkan, dan merendahkan martabat kiai, sekaligus melecehkan nilai-nilai luhur yang telah hidup di pesantren bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Dalam tradisi pesantren, Kiai bukan sekadar guru, melainkan teladan spiritual, moral, dan penjaga peradaban. Dari para kiai, santri belajar adab, keikhlasan, dan cinta tanah air. Penghormatan santri kepada kiai termasuk tradisi sowan bukanlah bentuk feodalisme, melainkan wujud adab dan kerendahan hati dalam menuntut ilmu.

​يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
"...niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11) 

Ayat ini menjadi fondasi keyakinan di dunia pesantren bahwa ilmu bukan hanya urusan akal, tetapi juga urusan hati dan keberkahan. Orang yang berilmu ditempatkan Allah pada derajat yang tinggi karena mereka menuntun manusia menuju kebenaran dan menebarkan manfaat. Maka, memuliakan ulama bukanlah pengkultusan individu, tetapi pengakuan atas kedudukan ilmu yang Allah muliakan

العلماء ورثة الأنبياء

"Ulama adalah pewaris para Nabi."

Hadis ini juga menegaskan bahwa para ulama mewarisi tugas kenabian, menyampaikan kebenaran, menjaga akhlak umat, dan menuntun manusia menuju jalan Allah. Mereka bukan pewaris harta, tetapi pewaris ilmu dan kebijaksanaan. Maka penghormatan kepada ulama sejatinya adalah penghormatan kepada warisan risalah para Nabi.

Tradisi sowan merupakan praktik luhur untuk merawat hubungan spiritual antara murid dan guru, meneguhkan sikap hormat kepada ilmu dan pembawanya.
Dalam pandangan pesantren, rendah hati adalah kunci keberkahan ilmu, bukan tanda ketundukan buta.

Bagi santri, doa dan ridho kiai jauh lebih berarti daripada pujian dunia.
Berkah itu memang tidak terlihat, tapi nyata dirasakan dalam perjalanan hidup mereka.
Maka, ketika martabat kiai dilecehkan, yang terluka bukan hanya pesantren, tetapi juga harkat moral bangsa.

Kita tidak boleh melupakan bahwa ulama dan santri memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk peran monumental KH. Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk menggerakkan santri mempertahankan kemerdekaan.
Mereka bukan hanya bagian dari sejarah, tapi juga penjaga nurani kebangsaan.

Pengecaman dan aksi seruan #BoikotTrans7 yang kini bergema di media sosial adalah bentuk protes moral atas framing negatif terhadap pesantren dan ulama, yang sejatinya merupakan benteng moral dan peradaban bangsa.
Khalayak publik berhak kecewa, media seharusnya melakukan riset mendalam sebelum menayangkan konten, bukan justru menggiring opini dan menstigma lembaga keagamaan yang telah berjasa besar bagi bangsa.

Kebebasan pers memang penting, namun tidak boleh berdiri tanpa moral, etika, dan nurani. Dalam negara yang menjunjung tinggi nilai Bhinneka Tunggal Ika, media idealnya hadir sebagai pencerah, pendidik, dan penjaga akal sehat publik, bukan sebagai penyebar penghinaan terhadap nilai luhur yang diwariskan para ulama.

Kejadian ini seharusnya menjadi cermin bagi dunia media untuk kembali beradab 
bahwa tugas utama media adalah mendidik, bukan menyesatkan; mencerdaskan, bukan merendahkan.

*Penulis merupakan Noor Khayati, Ketua Bidang Agama KOPRI PB PMII Masa Khidmah 2024-2027