Perdana! Mengapa Retret dan Rakornas KOPRI Dinilai Penting? Ini Penjelasan Ketua PB KOPRI

KOPRI.ID - Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan retret KOPRI 2025 resmi dibuka dengan penegasan penting dari Ketua PB KOPRI PMII, Wulan Sari. Dalam pidato pembukaan, ia menyampaikan bahwa agenda tahun ini bukan sekadar konsolidasi rutin, melainkan momentum pemurnian orientasi gerakan KOPRI sebagai institusi yang membawa mandat pemberdayaan perempuan.

Acara yang melibatkan jajaran PB dan Ketua PKC KOPRI se-Indonesia ini menjadi ruang strategis untuk menyatukan arah organisasi sekaligus mengontekstualisasikan tantangan kepemimpinan perempuan dalam lingkungan gerakan hari ini.

Dalam pembukaan resmi, Wulan menjelaskan bahwa Rakornas tahun ini berbeda dari agenda sebelumnya. Untuk pertama kalinya, rangkaian acara disandingkan dengan kegiatan retret, sebuah format yang secara filosofis mengajak struktur organisasi mengambil jeda dari rutinitas teknis. 

“Rangkaian acara Rakornas ini merupakan retret pertama yang kita adakan bersama Ketua PKC KOPRI dan PB KOPRI, sebagai ruang untuk menyinergikan gerakan melalui satu tagline, yakni koherensi organisasi,” ujarnya.

Baginya, kekuatan KOPRI bukan terletak pada banyaknya program, melainkan pada kesatuan visi. Ia menekankan bahwa KOPRI tidak berjalan sebagai entitas terpisah dari PMII, namun membawa mandat strategis untuk memperkuat kaderisasi perempuan dengan basis nilai dan profesionalisme.

“KOPRI memiliki arah yang selaras dengan PMII sesuai AD/ART, namun dengan mandat strategis untuk memberdayakan perempuan,” tegas Wulan.

Mengangkat makna retret secara harfiah mengambil jeda untuk melihat diri Wulan menegaskan urgensi perenungan arah gerakan. KOPRI menurutnya perlu kembali memperdalam identitas gerak yang berbasis ajaran Ahlusunnah wal Jamaah, bukan hanya dalam narasi, tetapi dalam aktualisasi kader.

“Di forum ini kita kembali meneguhkan orientasi KOPRI sebagai wadah pemberdayaan perempuan, yang mendorong kiprah kader di ruang profesionalisme berdasarkan nilai Ahlusunnah wal Jamaah,” papar Wulan.

Agenda retret bukan hanya format spiritual, tetapi mekanisme untuk mempertegas ulang identitas organisasi sekaligus membaca relevansi gerakan perempuan yang kini bertemu dengan dinamika industri digital, isu kesetaraan, serta kompetisi profesional.

Wulan menegaskan bahwa harmonisasi antara PB dan PKC adalah faktor vital agar garis komando organisasi terdistribusi secara seragam, sampai pada tataran daerah.

“Ruang ini menjadi persemedian bersama PKC dan PB untuk memastikan konsolidasi berjalan kuat hingga ke daerah.”

Dalam sesi pembukaan, Wulan juga menyoroti keharusan membaca isu secara berbasis wilayah. Menurutnya, agenda nasional tidak selalu dapat diserap tanpa membaca kebutuhan struktural daerah.

“Melalui Rakornas, kita ingin mendengar langsung kendala, peluang, dan tantangan kader yang direpresentasikan oleh PKC."

Dinamika tiap daerah, menurutnya, mencerminkan lanskap nyata yang dihadapi kader perempuan KOPRI: akses politik, ruang ekonomi, margin partisipasi organisasi, hingga isu sosial-keagamaan.

Rangkaian Rakornas diharapkan bukan hanya melahirkan resolusi program, tetapi peta jalan strategis KOPRI untuk memastikan bahwa empowerment berjalan dengan bentuk yang aktual dan terukur.

“Saya berharap seluruh ketua PKC khidmat mengikuti proses dan mengambil sebesar-besarnya manfaat,” tutupnya.

Arah Strategis Gerakan KOPRI

Melalui rangkaian ini, KOPRI ingin memastikan beberapa hal pokok:

1. Keseragaman narasi dan orientasi gerakan

Sehingga KOPRI tidak bergerak dengan tafsir yang berbeda-beda di tiap provinsi.

2. Pemetaan kebutuhan kader daerah

Sebagai basis penyusunan kebijakan dan agenda nasional.

3. Penguatan basis pemikiran Aswaja

Sebagai landasan etis, intelektual, dan praksis kader perempuan.

4. Penguatan ruang profesional kader

Agar kader KOPRI tidak hanya hadir dalam ruang aktivisme, tetapi juga menjadi representasi industri, pendidikan, kebijakan publik, dan teknologi.

Momentum Rakornas dan retret ini menjadi penanda bahwa KOPRI tidak hanya mempertahankan eksistensi organisatoris, tetapi juga memperjelas arah perjuangan perempuan yang memadukan kekuatan budaya organisasi, nilai keislaman, dan agenda pemberdayaan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Rakornas tahun ini bukan sekadar forum koordinasi. Ia menjadi arena ideologisasi ulang, ruang penguatan identitas, dan laboratorium gagasan strategis yang akan menentukan masa depan gerakan perempuan di tubuh PMII**