Menguatkan Kembali Akar Gerakan, KOPRI dalam Sorotan Otokritik Kader
KOPRI.ID - Dalam setiap gerakan, selalu ada ruang untuk refleksi. Sebab gerak yang tanpa evaluasi, hanya akan menjadi rutinitas yang lelah tapi tidak berdampak.
Dan dalam tubuh KOPRI, refleksi itu kini menjadi kebutuhan mendesak bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk membenahi. Sebab KOPRI yang berdaya dan digdaya tidak lahir dari pujian semata, tetapi dari keberanian menatap kelemahan sendiri.
Sudah terlalu sering kita terjebak pada euforia simbolik: baju seragam, spanduk semangat, foto-foto kegiatan. Tapi apa kabar basis? Apa kabar kader di daerah-daerah yang bahkan tidak tahu arah gerakan?
Di balik narasi besar “Kopri Berdaya, Kopri Digdaya”, masih banyak ruang kosong yang belum kita isi secara substansial.
Otokritik ini tidak ditujukan pada orang per orang, melainkan pada budaya dalam pergerakan kita. Kita seringkali sibuk mengejar pengakuan eksternal: lomba eksistensi di media sosial, saling unggah tanpa saling menyapa. Di tengah semangat digitalisasi, kita justru sering abai pada yang paling dasar: membangun kesadaran kritis dan spiritual yang membumi.
Kita pernah sadar namun kemudian kesadaran itu membius cara pandang kian menyempit. Luka dalam tubuh Kopri seringkali diabaikan, bahkan menjadi candaan yang berujung hilangnya selera bergerak dan bertumbuh. Agaknya kekeliruan itu menjelma sebagai permata yang dinormalisasi, sadarkah hari ini perjalanan tubuh Kopri dalam bayang saja?
Kita ingin perempuan KOPRI tampil di panggung perubahan, tapi berapa banyak ruang yang benar-benar kita siapkan untuk kader belajar dan tumbuh?
Forum-forum kaderisasi sering kali masih bersifat elitis, terpusat, dan minim partisipasi dari akar rumput. Diskusi lebih sering menjadi formalitas, bukan ruang dialektika yang menghidupkan pikiran.
Mari sejenak kita tengok, gerakan perempuan yang telah tumbuh dimanapun namun organisasi besar kita jauh dari kata dekapan kepedulian serta kasih sayang.
Narasi hebat dan lantang terdengar redup sebab arah gerak tak berupaya komitmen dalam medan juangnya. Tubuh Kopri mengalami kekacauan yang bahkan kita sendiri yang menjadi pelakunya sekaligus penawarnya. Apakah sudah sedalam itu kita menyadari redupnya identitas nyata gerakan kita?
KOPRI tidak kekurangan perempuan hebat. Tapi kita sering kekurangan sistem yang memberdayakan mereka secara berkelanjutan. Ada yang tumbuh sebentar lalu menghilang.
Ada yang bersinar sejenak, tapi redup karena tidak ditopang ekosistem yang sehat. Ini bukan salah siapa-siapa, tapi tanggung jawab kita bersama.
Digitalisasi semestinya menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar pajangan. Media sosial KOPRI seharusnya menjadi ruang narasi alternatif menyuarakan suara perempuan akar rumput, menjadi medium edukasi dan advokasi, bukan hanya etalase kegiatan. Kita butuh strategi komunikasi yang tidak hanya indah, tapi juga berdampak.
Gerakan perempuan dalam tubuh PMII seharusnya menjadi kekuatan etis dan moral, bukan sekadar pelengkap struktur. Kita terlalu lama nyaman berada dalam ruang simbolik.
Saatnya KOPRI mengambil peran lebih radikal radikal dalam gagasan, dalam pembelaan terhadap kelompok tertindas, dalam menyuarakan keadilan gender yang sejati.
Otokritik ini adalah cinta. Sebab kita mencintai pergerakan ini, maka kita tidak ingin membiarkannya stagnan. Maka, KOPRI harus kembali ke basis: mendengar lebih banyak, membaca lebih dalam, bertindak lebih berani. Kita tidak bisa hanya mengandalkan retorika.
KOPRI harus menjadi rumah yang hangat dan kritis. Tempat di mana perempuan tidak hanya diajak hadir, tapi diberi ruang untuk memimpin. Bukan untuk meniru gaya patriarki yang dominan, tapi menghadirkan kepemimpinan yang memanusiakan.
Dari ruang sunyi ke panggung peradaban itu bukan hanya slogan. Itu adalah jalan panjang yang harus ditempuh dengan keberanian merefleksi diri, memperbaiki yang salah, dan menumbuhkan yang benar. Dan jalan itu, harus kita mulai sekarang.
Dan jika sejarah kelak bertanya, kita tidak akan malu untuk menjawab siapa yang membawa lentera di tengah gelap, maka jawaban itu akan datang beriring dengan kesiapan yang matang.
Penulis: Risma Dika Alvianti (Kader KOPRI Kabupaten Bekasi)