Membaca KOPRI Sebagai Gerakan Sosial: Perspektif Gender, Politik, dan Budaya Organisasi
KOPRI.ID - Di tengah riuhnya narasi kemajuan gerakan perempuan, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) hadir bukan sekadar menjadi pelengkap dalam tubuh organisasi PMII, melainkan sebagai ruh perlawanan yang membawa misi emansipatoris, transformatif, dan membebaskan.
Sebagai ruang kesadaran, tempat lahirnya perempuan yang tidak hanya berpikir kritis tetapi juga bertindak taktis dalam membongkar ketimpangan, menggugat diskriminasi, serta merumuskan masa depan yang adil dan setara.
Dalam konteks ini, frasa “berdaya dan digdaya” bukan sekadar slogan, tapi ikrar ideologis yang mengakar pada pengalaman, perjuangan, dan pembacaan realitas sosial yang kompleks.
Filosofi Perempuan Berdaya
Berdaya merupkan kesadaran akan potensi. Namun ini bukanlah hadiah yang diberikan sistem patriarki, tetapi hasil dari perjuangan yang panjang.
KOPRI membentuk daya melalui pendidikan, diskursus, dan aksi kolektif. Perempuan dalam hal ini, KOPRI tidak menunggu ruang dibuka, tetapi menciptakan ruang, bahkan jika itu berarti harus merobohkan tembok-tembok kekuasaan yang selama ini membatasi dan mengkung-kung progresivitas perempuan.
Dalam pandangan eksistensialis, kebebasan bukanlah kondisi alami, tetapi harus diperjuangkan. Maka menjadi berdaya adalah ketika perempuan menyadari eksistensinya, melampaui kodrat yang direkayasa budaya, dan memutus rantai subordinasi, merginalisasi, dan beberapa istilah lain semacamnya.
Secara filosofis, KOPRI harus menghidupkan kembali konsep feminisme epistemik, yaitu bagaimana perempuan bukan hanya menjadi objek dari sistem pengetahuan, tetapi juga pencipta narasi.
KOPRI menjadi wadah lahirnya perempuan dengan kesadaran kelas, gender, dan spiritual, yang memahami bahwa keadilan bukanlah sesuatu yang netral, melainkan harus diperjuangkan dengan keberpihakan.
Digdaya sebagai Tindakan Politik
Digdaya berarti melampaui keterbatasan. Dalam konteks KOPRI, digdaya bukan berarti mendominasi, melainkan mampu mempengaruhi, membentuk opini, dan menggeser arus utama ke arah yang lebih adil.
Digdaya adalah politik keberanian. KOPRI hadir dalam forum-forum strategis, mengadvokasi isu-isu marginal, menjadi pemimpin dalam aksi, bukan hanya di pinggir jalan tetapi juga di ruang kebijakan.
Kekuatan ini terbukti dari fakta lapangan. Dalam beberapa tahun terakhir, KOPRI secara aktif terlibat dalam pengawalan isu kekerasan seksual di kampus ataupun diluar kampus, diskriminasi terhadap buruh perempuan, hingga krisis iklim yang berdampak pada kelompok perempuan di wilayah pedesaan.
Bukan hanya untuk menyuarakan, tapi juga untuk mengorganisir berbagai hal yang sudah menyalahi hak kemanusiaan utamanya.
Dalam catatan advokasi lokal misalnya, KOPRI Cabang Ciamis ikut mendorong perbaikan kurikulum pendidikan yang lebih inklusif gender serta menjadi inisiator forum diskusi perempuan lintas kampus dan komunitas.
Di berbagai daerah, kader KOPRI menjadi pelopor gerakan literasi digital bagi ibu-ibu, relawan kesehatan reproduksi, hingga fasilitator keadilan restoratif bagi korban kekerasan berbasis gender.
Kritis terhadap Struktur dan Budaya Organisasi
Namun menjadi berdaya dan digdaya tidak lepas dari kritik internal. Dalam tubuh organisasi sendiri, KOPRI masih menghadapi tantangan struktural, seperti ruang kepemimpinan yang masih maskulin, kultur organisasi yang sering abai pada perspektif gender, serta pengerdilan peran perempuan ke wilayah domestik internal. Maka berdaya dan digdaya juga berarti melawan dari dalam.
KOPRI harus terus memperjuangkan internalisasi nilai kesetaraan dalam struktur PMII itu sendiri. Kaderisasi harus membuka ruang aktualisasi setara bagi semua pihak, laki-laki ataupun perempuan, serta membongkar praktik-praktik yang melanggengkan budaya patriarkal, bahkan ketika itu dilakukan secara tidak sadar oleh sesama kader.
Menjadi kritis terhadap organisasi bukan bentuk pembangkangan, melainkan tanggung jawab ideologis agar gerakan ini tetap sehat dan berhaluan rakyat.
Di tengah realitas sosial yang semakin kompleks krisis iklim, ketimpangan ekonomi, disinformasi digital, KOPRI punya tantangan besar, yakni bukan hanya melahirkan pemimpin perempuan, tetapi juga mengakar kuat di basis rakyat.
Perempuan berdaya tidak cukup hanya hadir di mimbar, ia harus turun ke sawah, ke pasar, ke sekolah, ke ranah-ranah sunyi di mana suara perempuan seringkali tak terdengar dan mengalami kerentanan terhadap diskriminasi, subordinasi dan sejenisnya.
Korps PMII Putri bak menjadi pelita di tengah gelap, nyala kecil yang menjadi bara dalam sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia.
Ia adalah ingatan kolektif bahwa perempuan tidak pernah diam, tidak pernah selesai, dan tidak pernah tunduk pada keadaan. Maka KOPRI teruslah menjadi wadah untuk berdaya dan digdaya, karena di tanganmu, masa depan tak hanya setara, tapi juga bermartabat.
Penulis: Sarah Annisya Nurfauziah (Ketua PC KOPRI Ciamis)