Makna Pendidikan Orang Dewasa Ala KOPRI PMII Pada Kegiatan SKKN 2025

KOPRI.ID - Sesi saresehan pada hari terakhir Sekolah Kader KOPRI Nasional (SKKN) 2025 diwarnai pemikiran tajam dari Ketua Umum PB KOPRI PMII mengenai urgensi pendidikan orang dewasa sebagai basis penguatan gerakan perempuan kader PMII pada Sabtu (29/11).

Di hadapan seluruh peserta, ia menegaskan bahwa pendidikan untuk kader perempuan tidak bisa lagi terpaku pada pola lama yang bersifat instruksional. Menurutnya, pendidikan orang dewasa menuntut pola pembelajaran yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi pengalaman, diskusi, dan pemaknaan bersama.

“Kita berhadapan dengan kader yang sudah membawa pengalaman hidup, dinamika organisasi, dan kesadaran sosial tertentu. Karena itu, pendidikan kita harus memberikan ruang dialog dan proses bersama, bukan sekadar penyampaian materi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa model pendidikan orang dewasa sangat relevan diterapkan dalam SKKN karena kader yang hadir berasal dari latar organisasi dan daerah yang beragam. Pengalaman-pengalaman tersebut harus menjadi sumber belajar, bukan justru diabaikan.

Ketua Umum PB KOPRI PMII juga menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi perempuan di tingkat lokal maupun nasional sangat dinamis, sehingga pola pendidikan kader harus mampu menghubungkan realitas tersebut dengan proses pembelajaran organisasi.

“Kalau kita ingin melahirkan kader perempuan yang kuat, kita harus mengembangkan proses pendidikan yang memberi ruang tanya, ruang kritik, dan ruang untuk membangun pemahaman bersama dari pengalaman nyata mereka,” tambahnya.

Momen saresehan SKKN 2025 itu pun menjadi momen reflektif, di mana peserta berbagi praktik baik dan tantangan yang mereka hadapi selama menjalankan aktivitas organisasi di daerah masing-masing. Proses ini menunjukkan pentingnya pendekatan pembelajaran yang bersandar pada kebutuhan, pengalaman, dan kondisi riil kader di lapangan.

Dengan adanya saresehan pada kegiatan SKKN 2025, PB KOPRI PMII menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat model pendidikan kader yang lebih dialogis, partisipatif, dan relevan dengan perkembangan zaman, terutama dalam konteks pemberdayaan perempuan muda di lingkungan PMII.**