Lyora: Kisah Cinta, Luka, dan Harapan yang Mengubah Cara Pandang Masyarakat

KOPRI.ID - Pada Kamis, 7 Agustus 2025 KOPRI PB PMII menggelar nonton Bersama (nobar) Film Lyora di XXI Plaa Blok M. Bagi KOPRI sendiri, film ini bukan sekadar hiburan layar lebar, melainkan medium advokasi budaya yang kuat. 

Tidak semua perjuangan hidup dapat mudah diceritakan, apalagi jika ia terkait hal-hal yang masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Film “Lyora” yang diangkat dari kisah nyata Meutya Hafidz Menteri Komunikasi dan Digital RI menjadi salah satu karya yang berani menembus batas tersebut.

Isu infertilitas yang sering dipandang sebelah mata atau bahkan menjadi bahan stigma disorot dengan perspektif kemanusiaan yang mendalam.

Mengenal Infertilitas 

Menurut Tono Djuwantono yang merupakan spesialis kandungan Infertilitas adalah kondisi ketika pasangan suami istri mengalami kesulitan untuk mendapatkan keturunan meski sudah melakukan hubungan seksual secara rutin tanpa alat kontrasepsi selama setidaknya satu tahun. Kondisi ini bukan hanya persoalan medis, tetapi juga kerap menyentuh sisi emosional dan sosial pasangan.

Bagi sebagian orang, memiliki anak dianggap sebagai kelanjutan alami dari pernikahan. Namun, bagi pasangan yang mengalami infertilitas, proses ini bisa menjadi perjalanan panjang yang penuh harapan, upaya, dan tantangan. 

Infertilitas dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari pihak perempuan maupun laki-laki, atau kombinasi keduanya. Gangguan ovulasi, masalah kualitas sperma, kelainan rahim, hingga faktor gaya hidup seperti stres, pola makan, dan paparan zat berbahaya bisa menjadi penyebabnya.

Meski demikian, perkembangan ilmu kedokteran saat ini memberi harapan besar bagi pasangan yang mengalaminya. Ada berbagai pilihan penanganan, mulai dari pengobatan sederhana, prosedur inseminasi buatan, hingga teknologi bayi tabung (IVF). 

Namun, lebih dari sekadar mencari solusi medis, dukungan mental dan saling pengertian di antara pasangan menjadi kunci penting untuk menghadapi perjalanan ini.

Infertilitas bukanlah akhir dari cerita, melainkan babak yang menuntut kesabaran, kesadaran, dan kepercayaan bahwa setiap perjalanan memiliki jalannya masing-masing.

Infertilitas: Fakta yang Sering Disembunyikan

Melalui karakter dan alur yang emosional, Lyora membuka mata publik bahwa infertilitas bukanlah “aib” yang harus disembunyikan, tetapi penyakit yang dapat dan perlu diobati. 

WHO mencatat 1 dari 6 orang di dunia mengalaminya, dan itu terjadi pada laki-laki maupun perempuan, tanpa membedakan kelas sosial atau latar belakang wilayah.

Koordinator/PIC Pernobaran Lyora di KOPRI PB Athiya menegaskan, pesan utama film ini sejalan dengan agenda KOPRI dalam memperjuangkan hak kesehatan reproduksi dan kesetaraan gender.

“Film ini mematahkan stigma bahwa infertilitas adalah aib. Ia menegaskan bahwa masalah ini bisa dialami siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki, tanpa memandang status sosial atau tempat tinggal,” ujarnya.

Dari Stigma ke Solidaritas

Kekuatan Lyora tidak hanya pada narasinya, tetapi pada kesadaran kolektif yang berusaha dibangunnya. Stigma “perempuan mandul” yang selama ini menjadi beban sosial ingin dipatahkan melalui kisah nyata perjuangan pasangan, termasuk mereka yang diam-diam berjuang di balik senyum.

Film ini juga mengirim pesan kepada pemerintah untu perlunya memperhatikan lebih pada kebijakan kesehatan reproduksi, misalnya melalui pemeriksaan yang dapat diakses lewat BPJS agar dukungan tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga realitas yang menjangkau masyarakat luas.

Seni sebagai Ruang Advokasi

Film Lyora sejalan dengan jalan perjuangan KOPRI untuk terus menyuarakan isu-isu perempuan, menjadikannya bagian dari kampanye yang dikemas dalam medium visual.

Bagi KOPRI, Lyora adalah contoh nyata bagaimana seni dan budaya dapat menjadi pintu masuk advokasi yang efektif.

Mengubah persepsi publik seringkali lebih berhasil melalui cerita yang menggetarkan hati dibandingkan sekadar menyajikan data statistik.

Kisah yang diangkat Lyora membuka ruang percakapan publik tentang isu infertilitas topik yang selama ini kerap diselimuti stigma.

Lewat narasi yang menyentuh dan tokoh yang kuat, film ini mengajak penonton memahami bahwa perjuangan mendapatkan buah hati bukanlah aib, melainkan perjalanan yang sarat keberanian dan harapan.

KOPRI berharap Lyora mampu menginspirasi seluruh lapisan masyarakat dari pembuat kebijakan, tenaga kesehatan, hingga keluarga di pelosok desa untuk memandang infertilitas secara lebih objektif dan penuh empati. Sebab di balik setiap perjuangan, ada kisah yang layak dihargai, bukan dihakimi.