Local is Global : Islam Nusantara dalam Perspektif Ulama Perempuan, Ini Penjelasan Bu Nyai Badriyah Fayyumi
KOPRI.ID — Sekolah Kader KOPRI Nasional (SKKN) yang diselenggarakan oleh KOPRI Pengurus Besar PMII kembali menghadirkan diskursus strategis keislaman dan kebangsaan. Pada Jumat, 28 November 2025, peserta SKKN mendapatkan materi bertajuk “Islam Nusantara Aksi Global” yang disampaikan oleh Bu Nyai Badriyah Fayumi, ulama perempuan dan penggerak utama Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).
Dalam pemaparannya, Bu Nyai Badriyah Fayyumi menegaskan bahwa Islam Nusantara merupakan Islam yang bersifat universal, tumbuh dari perpaduan nilai Islam dan budaya lokal, serta memiliki daya kontribusi global.
“Islam Nusantara itu bukan Islam yang sempit atau lokalistik. Ia justru Islam yang universal, yang hidup dari budaya lokal dan mampu memberi manfaat bagi dunia,” ujar Bu Nyai Badriyah Fayumi.
Ia mencontohkan KUPI sebagai gerakan konkret Islam Nusantara yang dipelopori oleh ulama perempuan dan telah mendapatkan pengakuan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Bu Nyai Badriyah menjelaskan bahwa KUPI merekonstruksi makna global melalui prinsip “Local is Global”. Menurutnya, global bukan semata soal jangkauan geografis, tetapi tentang sejauh mana sebuah gerakan memberi dampak dan inspirasi.
“Global itu bukan soal kita ke mana-mana. Tapi apa yang kita lakukan di lokal itu bermanfaat, berdampak, dan memberi inspirasi bagi dunia. Itulah global,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa KUPI hadir sebagai gerakan intelektual, sosial, kultural, dan spiritual yang berpijak pada realitas hidup perempuan.
Dalam materi tersebut, Bu Nyai Badriyah memaparkan visi utama KUPI yang meliputi keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, dan kesemestaan. Keempat visi ini menjadi arah perjuangan KUPI dalam merespons persoalan umat dan bangsa.
Salah satu ciri khas metodologi KUPI adalah menjadikan pengalaman perempuan sebagai bagian dari proses penetapan fatwa, dengan tetap berlandaskan ayat-ayat Al-Qur’an dan maqashid syariah.
“Pengalaman perempuan itu bukan cerita personal semata, tapi sumber pengetahuan keagamaan yang sah dan penting,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa ulama perempuan adalah aktor utama gerakan KUPI, karena memiliki otoritas keilmuan sekaligus pengalaman hidup yang relevan.
Bu Nyai Badriyah turut menjelaskan perbedaan antara ulama perempuan dan perempuan ulama.
“Ulama perempuan itu istilah ideologis, yakni ulama yang punya perspektif dan keberpihakan pada perempuan. Sedangkan perempuan ulama adalah perempuan biologis yang memiliki kualifikasi keulamaan,” jelasnya.
lanjut Bu Nyai Badriyah bergerak di berbagai ruang khidmah, mulai dari pesantren, majelis taklim, komunitas, universitas, hingga ruang pembinaan generasi muda. Selain itu, KUPI juga hadir di ranah juang advokasi kebijakan negara.
Materi Islam Nusantara Aksi Global ini menjadi penguatan ideologis bagi kader KOPRI untuk memahami Islam yang berkeadilan, kontekstual, dan berpihak pada kemanusiaan.
Melalui SKKN, KOPRI PB PMII menegaskan komitmennya melahirkan kader perempuan yang berperspektif keulamaan, kritis terhadap ketimpangan, serta siap mengambil peran strategis di ruang-ruang juang keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan.