KOPRI PB PMII: Tantangan Pasca-Kemerdekaan Lebih Berat, Saatnya Aparatur Bergerak!

KOPRI.ID - Tujuh belas agustus bukan sekadar penanda sejarah lepasnya Indonesia dari belenggu penjajahan. Lebih dari itu, ia adalah momen refleksi tentang makna kemerdekaan sejati dalam konteks kekinian.

Di tengah gegap gempita perayaan dan semangat nasionalisme, sebagai bagian dari aparatur Kopri  PB PMII saya merasa penting untuk merenungi, sudahkah kita benar-benar merdeka dalam pikiran, tindakan, dan kontribusi kita terhadap organisasi dan bangsa?

Menjadi aparatur Kopri PB PMII bukan hanya soal mengemban jabatan atau menjalankan program. Ini adalah bentuk komitmen ideologis dan tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendiri bangsa dan pendiri PMII.

Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibangun dari keberanian, keteguhan hati, dan semangat kolektif untuk melawan ketidakadilan.

Nilai-nilai itu pula yang harus terus kita hidupkan di tubuh organisasi, terutama sebagai kader perempuan yang punya tantangan ganda, sebagai penggerak internal dan penjaga eksistensi gerakan perempuan Islam.

Sebagai kader Kopri, kita harus sadar bahwa perjuangan hari ini bukan lagi melawan penjajah yang datang membawa senjata, tapi melawan bentuk-bentuk penjajahan baru, ketimpangan akses, bias gender struktural, pembatasan ruang gerak perempuan, dan ketidaksetaraan dalam pengambilan keputusan.

Di sinilah peran strategis aparatur organisasi diuji bagaimana kita mampu membangun gerakan yang berbasis pada kesadaran kritis, bukan sekadar rutinitas struktural.

Kita tidak bisa lagi hanya menjadi pelengkap dalam struktur organisasi. Kemerdekaan menuntut kita untuk tampil sebagai penggerak perubahan.

Aparatur Kopri hari ini harus menjadi simbol perempuan progresif yang mampu menjaga marwah organisasi, sekaligus menjadi teladan dalam integritas, keberanian, dan kecakapan dalam mengelola ruang perjuangan.

Dalam konteks internal organisasi, tanggung jawab aparatur tidak boleh dipahami secara administratif semata.

Kemerdekaan kita sebagai aparatur adalah saat kita bisa menyuarakan gagasan tanpa takut dibungkam, bisa mengkritik tanpa takut dibenci, dan bisa bertindak dengan penuh kesadaran, bukan karena tekanan.

Kemerdekaan adalah saat kita tidak lagi terjebak dalam budaya “asal jalan”, tapi mulai menata organisasi secara berkelanjutan dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Momentum Hari Kemerdekaan ini, menurut saya, adalah saat yang tepat untuk melakukan evaluasi bersama: sudah sejauh mana gerak kita membawa perubahan?

Sudah sejauh mana kader-kader Kopri merasa aman, nyaman, dan tumbuh dalam organisasi?

Dan yang paling penting, sudahkah kita benar-benar merdeka dalam memperjuangkan nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan keperempuanan dalam satu tarikan nafas perjuangan?

Saya percaya bahwa aparatur Kopri PMII adalah pilar penting dalam membangun ekosistem organisasi yang sehat, responsif, dan progresif.

Namun semua itu hanya bisa tercapai jika kita mulai bergerak dengan kesadaran kolektif, menghapus budaya strukturalistik yang kaku, dan membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi seluruh kader, tanpa kecuali.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80! Semoga kemerdekaan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai.

Dan semoga kita,  Kopri PMII, mampu mengemban amanah ini dengan keteguhan hati, kejernihan pikiran, dan keberanian untuk terus melangkah, meski tak selalu mudah.

Oleh : Lina Komala Sari ( Ketua Bidang Penataan Aparatur Organisasi KOPRI PB PMII)