KOPRI Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Perempuan 2025, Ini Strateginya!
KOPRI.ID - Kemandirian perempuan bukan sekadar wacana, tetapi agenda strategis yang harus diperjuangkan secara terstruktur. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Retreat & Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2025 KOPRI yang digelar pada Rabu, 4 Desember 2024 di Asrama Haji.
Hadir sebagai narasumber, Ahmad Sauqi selaku Staf Khusus Menteri UMKM Republik Indonesia menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi vital dalam penguatan ekonomi rakyat. Namun, masih ada stigma domestikasi yang menempatkan perempuan hanya pada ranah internal rumah tangga.
“Stigma itu memaksa perempuan untuk domestik. Padahal perempuan menguasai banyak sektor tradisional, sosial, lalu berkembang menjadi basis ekonomi kerakyatan,” ujarnya.
Sauqi menyoroti pula bahwa pesantren telah lama menjadi ruang strategis bagi peran perempuan. Mengutip pandangan Gus Dur, ia menekankan bahwa perempuan menjadi motor penggerak aktivitas ekonomi berbasis tradisi pesantren.
“Perempuan mengambil peran sangat kuat mulai dari menyiapkan makanan, menyediakan jasa, hingga terlibat dalam ritual. UMKM tidak pernah lepas dari tradisi pesantren,” jelasnya.
Menurut Sauqi, UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional, dan mayoritas dijalankan oleh pelaku perempuan. Hal inilah yang menjadi pintu besar bagi KOPRI untuk mengambil posisi strategis dalam pemberdayaan ekonomi anggota dan kadernya.
Di lingkungan Kementerian UMKM, ia menyampaikan bahwa pemerintah sedang memperluas akses permodalan, membuka akses pasar, serta memperkuat perlindungan hukum bagi pelaku usaha.
“Kami bertugas mempermudah modal, akses pasar, dan perlindungan hukum. Saya berharap fokus KOPRI bisa diarahkan ke UMKM sebagai ruang pemberdayaan perempuan,” tegasnya.
Sauqi mencontohkan figur Siti Khadijah sebagai teladan perempuan yang mandiri secara finansial dan berdampak sosial besar. Namun ia menegaskan bahwa kemandirian tidak dapat diperoleh tanpa sikap aktif.
“Jangan diam. Peluang itu harus diambil. Kalau diam, kesempatan tidak akan datang. KOPRI harus mandiri secara finansial,” pesannya.
Di era digital, UMKM dinilai semakin relevan karena ekosistem digital memungkinkan pemasaran lebih luas dan penguatan branding produk perempuan secara cepat. Ia mengingatkan agar organisasi tidak terjebak pada retorika aktivisme tanpa aksi nyata.
Pemerintah juga tengah mendorong skema pendanaan berbunga rendah dan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai upaya memperkuat usaha berbasis komunitas. Namun ia menekankan bahwa pembiayaan dan pendampingan harus dilakukan melalui kelompok, bukan perorangan.
Selain itu, program inkubasi UMKM kini tengah berjalan untuk memberikan pendampingan mulai dari manajemen bisnis, legalitas usaha, hingga pengembangan produk dan pemasaran.
Retreat dan Rakornas 2025 menjadi momentum konsolidasi strategi KOPRI dalam agenda pemberdayaan ekonomi perempuan. KOPRI diharapkan bukan hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi motor penggerak kemandirian finansial perempuan secara nyata dan terukur.
Dengan basis sosial yang kuat, akar budaya pesantren, serta jejaring perempuan akar rumput, langkah besar pemberdayaan ekonomi perempuan bukan sekadar rencana, tetapi gagasan yang dapat segera diwujudkan.**