Kolaborasi MoRagister, KOPRI PB PMII, dan PKU-MI Bahas Peran Santri dan Gerakan Sosial di Tengah Krisis Ekonomi
KOPRI.ID – Aula Pusat Kajian Umat Masjid Istiqlal (PKU-MI), Jakarta, menjadi saksi terselenggaranya Dialog Interaktif bertema “Ekonomi Berkeadilan dan Kemandirian Umat di Tengah Austerity: Peran Santri, Kader Ulama, dan Gerakan Sosial dalam Menjawab Tantangan Krisis”, Kamis (28/8).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara MoRagister, KOPRI PB PMII, dan PKU-MI, serta menghadirkan sejumlah narasumber lintas bidang, mulai dari ekonom, politisi, hingga tokoh agama.
Hadir sebagai pembicara utama, Abra Talattov (Ekonom INDEF), Anik Rifkoh (Wakil Direktur Fundraising, Humas & IT NU-Care LazisNU), KH. Ahmad Tib Raya (Direktur PKU Masjid Istiqlal), dan Irma Muthoharoh (politikus). Dialog ini berlangsung secara hybrid, diikuti peserta dari dalam negeri maupun luar negeri melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung oleh TV NU.
Ketua Umum MoRagister Nasional Novia Turokhmah, menyampaikan bahwa forum ini menjadi agenda perdana setelah pelantikan kepengurusan MoRagister oleh Kementerian Agama RI, Direktorat Pesantren, pada pagi harinya.
“Dialog ini adalah bukti nyata komitmen kami sebagai wadah bagi santri berprestasi dari jenjang S2 dan S3, yang tersebar di 13 perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Kami ingin menghadirkan diskusi serius tentang kebijakan austerity dan mencari solusi atas tantangan krisis bersama-sama,” ungkap Novia.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan KOPRI PB PMII dan PKU-MI menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring dan menghadirkan gagasan segar demi kepentingan umat dan bangsa.
Sementara itu, Nur Zakiyah mewakili Ketua Umum KOPRI PB PMII sekaligus Ketua Bidang Ekonomi dan Kajian Perindustrian, menegaskan pentingnya persatuan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi krisis.
“Hari ini adalah momen berharga, karena kita berdialog di jantung Istiqlal. Ketua Umum KOPRI PB PMII menyampaikan selamat atas pelantikan MoRagister, sekaligus menitipkan pesan agar menjadi pelopor perubahan. Krisis ini hanya bisa kita hadapi dengan solidaritas santri, kader perempuan, ulama, dan masyarakat sipil yang bersatu dalam kerja nyata,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan Ketua Umum KOPRI PB PMII, Wulan Sari bahwa perempuan tidak boleh hanya menjadi penonton.
“Perempuan harus hadir sebagai penggerak, pemimpin, dan penentu arah perubahan. Kita sebagai pionir penggerak harus bisa menjadi motor di berbagai sektor. Mari kita jadikan dialog ini bukan sekadar berbagi gagasan, tetapi juga ruang meneguhkan komitmen menghadirkan keadilan, memperkuat kemandirian, dan membangun harapan di tengah krisis ini,” tambahnya.
Para narasumber memberikan perspektif yang beragam mulai dari analisis kebijakan ekonomi yang menekan ruang fiskal masyarakat (austerity), strategi penguatan gerakan sosial, hingga peran filantropi dan kelembagaan keagamaan dalam menjaga kemandirian umat.
Dialog berlangsung interaktif, dengan peserta aktif bertanya dan berdiskusi, baik yang hadir secara langsung di Aula PKU-MI maupun melalui ruang virtual Zoom Meeting.
Kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor santri, ulama, kader perempuan, dan gerakan sosial untuk mencari jalan keluar menghadapi krisis ekonomi.
Kehadiran MoRagister sebagai organisasi baru di bawah Kementerian Agama RI menambah warna dalam upaya membangun Indonesia yang lebih berkeadilan dan mandiri.**