Gerakan Nasional! KOPRI Eco Movement Resmi Dimulai, Targetkan Zero Carbon 2030
KOPRI.ID - PB KOPRI PMII resmi meluncurkan KOPRI Eco Movement dalam rangkaian Kick Off Harlah KOPRI ke-58 yang berlangsung di Mojokerto, Minggu (2/11/2025). Peluncuran ini disebut sebagai langkah baru yang menegaskan posisi KOPRI sebagai motor gerakan ekologis yang dipelopori perempuan muda Indonesia.
Gerakan ini dirancang untuk memperkuat aksi penyelamatan lingkungan melalui penanaman pohon, rehabilitasi mangrove, dan edukasi publik.
Ketua PB KOPRI PMII menegaskan bahwa peluncuran gerakan ini merupakan bentuk komitmen serius organisasi terhadap isu strategis bangsa, terutama lingkungan. Dalam pernyataan langsungnya, ia mengatakan, “KOPRI Eco Movement adalah upaya konkret kami untuk mengajak perempuan dan pemuda terlibat langsung menjaga masa depan bumi. Perempuan memiliki peran strategis dalam gerakan ekologis.” Sementara dalam penyampaiannya yang bersifat tidak langsung, ia menambahkan bahwa gerakan ini sekaligus menjadi refleksi Harlah ke-58 KOPRI yang tidak sekadar diperingati sebagai acara seremonial.
“KOPRI Eco Movement adalah langkah konkret kami untuk mengajak perempuan dan pemuda terlibat langsung menjaga masa depan bumi. Perempuan memiliki peran strategis dalam setiap gerakan ekologis, dan kami ingin memastikan mereka berada di garda terdepan" tegasnya.
Pelaksanaan KOPRI Eco Movement dimulai di Mojokerto, Jawa Timur, pada 2 November 2025 sebagai titik kick off dan pembukaan Bulan Menanam KOPRI. Kegiatan berlanjut ke Pesawaran, Lampung, pada 22 November 2025 untuk aksi penanaman mangrove bersama kader dan masyarakat pesisir. KOPRI juga menjadwalkan kegiatan penanaman mangrove bersama kementerian terkait, yang direncanakan berlangsung di Rumpin dan beberapa titik-titik yang bekerja sama dengan PKC di seluruh Indonesia untuk melaksanakan penanaman serentak sepanjang November hingga Desember 2025.
Kegiatan ini didukung oleh berbagai pihak seperti Kementerian Kehutanan RI, Kelompok Tani Hutan (KTH), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta masyarakat. Ketua PB KOPRI menyampaikan bahwa dukungan tersebut menjadi modal utama keberhasilan gerakan. Ia menyebut, “Kolaborasi ini menunjukkan bahwa gerakan lingkungan tidak bisa berjalan sendiri. Ada kerja bersama masyarakat, pemerintah, dan kader PMII.”
Isu lingkungan diangkat karena dianggap sebagai tantangan global yang berdampak langsung pada kehidupan perempuan. Secara tidak langsung, PB KOPRI menjelaskan bahwa kerusakan ekosistem pesisir, banjir, dan pencemaran air adalah contoh persoalan yang banyak dirasakan perempuan di akar rumput. Oleh karena itu, melalui perspektif ekofeminisme, KOPRI ingin menguatkan peran perempuan sebagai agen perubahan dalam penyelamatan lingkungan.
KOPRI Eco Movement juga ditujukan untuk menjawab tiga persoalan utama seperti kerusakan ekosistem pesisir, rendahnya kesadaran ekologis masyarakat, dan minimnya keterlibatan perempuan dalam isu lingkungan. Gerakan ini sekaligus mendukung upaya pemerintah menuju target Zero Carbon 2030.
Agar tidak berhenti pada seremoni, PB KOPRI menyiapkan tiga langkah keberlanjutan. Pertama, bekerja sama dengan KTH dan Pokdarwis untuk perawatan pascapenanaman. Kedua, menjalin kolaborasi dengan Kementerian Kehutanan untuk memberikan edukasi berkelanjutan. Ketiga, menetapkan Bulan Menanam KOPRI sebagai agenda tahunan. “Kami ingin memastikan bahwa gerakan ini hidup terus, bukan hanya ramai saat Harlah,” tegas Ketua Maysaroh selaku ketua pelaksana.
Dengan gerakan yang bertahap, kolaboratif, dan menyentuh banyak wilayah, KOPRI berharap KOPRI Eco Movement menjadi kontribusi nyata perempuan Indonesia untuk kelestarian lingkungan.**