Generasi Z Tak Lagi Tertarik Politik? Ini Strategi Baru Gerakan Perempuan Menurut Juri Ardiantoro

KOPRI.ID - Dalam rangkaian kegiatan Retret & Rakornas PB KOPRI PMII 2025, sebuah diskusi nasional digelar pada Rabu, 4 Desember 2025.

Diskusi tersebut menghadirkan narasumber Juri Ardiantoro yang juga akrab disapa Mas Juri dengan moderator Dewi Avivah yang juga Ketua Bidang Kaderisasi Nasional, mengangkat tema strategis “Integritas, Profesionalisme & Pengabdian.” Agenda ini menjadi momen refleksi kolektif menuju arah gerakan perempuan yang lebih relevan dan berdaya guna.

Dalam paparannya, Mas Juri membuka sesi dengan sorotan kritis terhadap situasi kader yang telah menduduki Badan Pengurus Harian (BPH) di berbagai tingkatan. Menurutnya, posisi tersebut menandakan masuknya kader ke arena politik, karena ketua dan pengurus harian secara langsung terhubung dengan dinamika politik setiap hari.

“Ketika seseorang berada di BPH, maka ia sesungguhnya telah berada dalam ruang kepemimpinan politik,” ujarnya.

Namun ia menegaskan bahwa politik bukan satu-satunya jalur pengabdian. Menurutnya, politik memiliki keterbatasan ruang aktualisasi, dan tidak semua kader mampu bertahan secara profesional di dalamnya.

Organisasi Diminta Sediakan Alternatif Karier bagi Kader

Mas Juri menilai bahwa organisasi perlu membuka spektrum pilihan karier di luar jalur politik. Hal ini penting agar kader tetap merasa menjadi bagian dari PMII maupun KOPRI tanpa kehilangan identitas dan arah.

Ia menjelaskan, tujuan utama kaderisasi bukan sekadar mencetak aktivis, tetapi membentuk individu yang mampu hidup mandiri dan memiliki peran strategis dalam masyarakat.

“Kader harus mampu menjawab pertanyaan tentang akan bekerja di mana, berperan sebagai apa, dan kontribusi apa yang dapat diberikan,” tegasnya.

Menurutnya, struktur organisasi juga harus menyiapkan skema pasca kaderisasi agar alumni tetap relevan serta mampu survive dalam situasi sosial ekonomi yang tidak stabil.

Krisis Pangan Jadi Sektor Strategis Kader Perempuan

Dalam diskusi tersebut, Mas Juri menyoroti tantangan masa depan yang perlu menjadi fokus kader perempuan, khususnya isu ketahanan pangan dan diversifikasi usaha pertanian.

Menurutnya, krisis pangan global akan menjadi ancaman nyata. Meski memiliki akses ekonomi, ketersediaan pangan di masa depan tidak selalu terjamin.

“Ini perlu menjadi concern kader perempuan: usaha pertanian modern, pengelolaan sampah organik, maupun bisnis komoditas berbasis digital,” paparnya.

Ia menyebut beberapa sektor yang diyakini akan bertahan dalam jangka panjang, di antaranya:

1. Pertanian berbasis teknologi,

2. Pengelolaan sampah menjadi kompos,

3. Bisnis pangan rumahan,

4. Serta sektor jasa berbasis digital.

Kader perempuan dinilai memiliki keunggulan dalam mengelola sektor-sektor tersebut, termasuk kemampuan mengembangkan komunitas dan membangun jaringan usaha.

Menghadapi Generasi Baru dan Tantangan Relevansi

Mas Juri juga menyoroti perubahan minat generasi mahasiswa saat ini. Generasi Z disebut tidak terlalu tertarik pada isu politik dan membutuhkan daya tarik baru dalam ruang gerakan.

Karena itu, ia menyarankan agar PMII dan KOPRI menghadirkan program berbasis:

1. Penguasaan bahasa asing,

2. Teknologi digital,

3. Sertifikasi profesi,

4. dan pengembangan kewirausahaan perempuan.

Hal ini, menurutnya, dapat memberikan diferensiasi gerakan PMII dan sekaligus memperkuat kehadiran kader perempuan di sektor profesional.

Pesan bagi Kader: Tentukan Fokus dan Bangun Identitas Keahlian

Menjawab pertanyaan peserta mengenai ketertinggalan karier akibat terlalu banyak melakukan hal sekaligus, Mas Juri menegaskan bahwa setiap individu harus menentukan prioritas keahlian sejak dini.

“Tidak semua harus dilakukan. Pilih satu bidang sehingga identitas profesional menjadi jelas,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kemampuan komunikasi, leadership, dan relasi sebagai strategi karier.

Diskusi nasional ini menghasilkan beberapa poin reflektif yang menjadi catatan penting untuk arah KOPRI ke depan, yaitu:

1. Penguatan identitas kader sebagai mahasiswa dan intelektual.

2. Penyediaan jalur pengembangan profesi selain politik.

3. Fokus pada bidang strategis yang memiliki ketahanan masa depan.

4. Penyusunan orientasi kaderisasi jangka panjang pasca kepengurusan.

Rangkaian diskusi dalam Retret & Rakornas ini menegaskan bahwa tantangan zaman tidak hanya menuntut konsistensi organisasi, tetapi juga kesiapan kader untuk menjadi produsen, bukan sekadar konsumen.

KOPRI diharapkan mampu melahirkan kader perempuan yang profesional, adaptif, dan memiliki peran nyata dalam perkembangan ekonomi maupun sosial Nasional.**