Digitalisasi, Kreativitas, dan Ruh Aswaja dalam Gerakan KOPRI

KOPRI.ID - Di tengah derasnya arus digitalisasi, ruang virtual hari ini menjadi medan baru perjuangan sosial, intelektual, dan kultural. 

Namun, seiring kemudahan yang ditawarkan kecerdasan buatan (AI), muncul tantangan serius terhadap nilai-nilai orisinalitas, kejujuran intelektual, dan ruh kesadaran dalam berkarya. 

YouTube salah satu platform digital terbesar, bahkan baru-baru ini menetapkan kebijakan tegas melalui video yang repetitif, tidak autentik, dan diproduksi secara massal tak lagi layak dimonetisasi per 15 Juli 2025 lalu.

Kebijakan ini sejatinya bukan hanya soal regulasi platform, melainkan peringatan simbolik tentang pentingnya kualitas, proses, dan keaslian dalam setiap karya. 

Di sinilah nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam gerakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi sangat relevan, khususnya bagi KOPRI sebagai garda perempuan PMII yang bergerak di tengah dunia yang terus berubah.

AI Adalah Alat, Bukan Ruh Gerakan

Dalam tradisi Aswaja, manusia dimuliakan karena akalnya, kesadarannya, dan kemampuannya menghadirkan niat yang ikhlas dalam setiap amal. AI, betapapun canggihnya, tetaplah alat. Ia tidak memiliki ruh, tidak mengenal niat, dan tidak memahami makna ikhlas atau berhikmah.

Maka, ketika KOPRI hadir di ruang digital melalui konten, kampanye, atau advokasi daring yang dibawa bukan semata informasi, tetapi juga pesan dakwah sosial, kesadaran kritis, dan keberpihakan terhadap keadilan.

Konten KOPRI harus tumbuh dari refleksi, bukan hanya dari hasil susunan algoritma atau template yang bisa diulang.

Prinsip Aswaja menekankan wasathiyah (moderat), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil). Prinsip-prinsip ini menjadi penting dalam menjaga gerakan digital KOPRI agar tidak terjebak pada ekstremisme viralitas, narsisme digital, atau jebakan konten instan yang hanya mengejar cuan tapi kehilangan ruh perjuangan.

KOPRI dan Tanggung Jawab Etis di Era Digital

Ketika media sosial menjadi panggung baru untuk menyuarakan perlawanan dan keberpihakan, KOPRI memiliki tanggung jawab ganda dalam membangun narasi kritis sekaligus menjaga akhlak komunikasi.

Di sinilah etika digital berlandaskan nilai Aswaja menjadi penting. Bahwa setiap konten bukan hanya dinilai dari jumlah tayangan, tetapi dari kejujuran dalam menyampaikan fakta, adab dalam berdialog, dan keberanian menyuarakan kebenaran dengan santun.

Dalam khazanah Aswaja, maqashid syariah tujuan utama syariat adalah menjaga agama, akal, jiwa, harta, dan keturunan.

Jika ditarik dalam dunia digital, ini berarti menjaga akal dari hoaks, menjaga jiwa dari ujaran kebencian, dan menjaga generasi dari konten-konten yang merusak nalar dan nilai. Maka konten KOPRI bukan hanya harus informatif, tetapi juga harus mendidik, mencerahkan, dan membebaskan.

Orisinalitas Adalah Wujud Iman Kultural

Sebagaimana YouTube menegaskan pentingnya keaslian dalam berkarya, KOPRI juga harus membangun ekosistem digital yang menolak budaya “asal jadi” atau konten tempelan.

Orisinalitas adalah bagian dari amanah ilmiah dan komitmen ideologis. KOPRI harus menjadi pelopor narasi perempuan Muslim yang cerdas, berani, dan berakar pada realitas sosial umat. 

Setiap unggahan bukan sekadar untuk viralitas, tetapi sebagai bentuk artikulasi gagasan, refleksi sosial, dan suara keadilan dari sudut pandang perempuan yang berpijak pada nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin.

Ruang Digital, Jalan Dakwah Kritis dan Emansipatoris

KOPRI tidak bisa bersikap pasif terhadap dunia digital. Sebaliknya, ia harus memaknai teknologi sebagai media dakwah bil hal yakni dakwah dengan perbuatan, contoh, dan konten yang mencerahkan.

Melalui platform digital, KOPRI dapat memperluas pengaruhnya mengedukasi publik soal kesetaraan gender, merespons isu-isu keumatan dan kebangsaan, hingga menciptakan literasi keislaman yang berpihak pada keadilan sosial. Namun dalam semua itu, prinsip Aswaja tetap harus menjadi fondasi.

Karena sejatinya, perjuangan perempuan di ruang digital bukan sekadar tentang siapa yang paling didengar, tetapi siapa yang paling mampu menyuarakan kebenaran dengan adab, ilmu, dan keberanian.

Kebijakan YouTube adalah simbol zaman bahwa di tengah kebisingan algoritma, suara yang jujur tetap dicari. Mesin bisa menyalin, tapi tak bisa mengilhami.

KOPRI sebagai representasi gerakan perempuan Islam progresif, harus menjawab tantangan ini dengan karya-karya yang bukan hanya bermutu secara teknis, tapi juga kuat secara ideologis.

Sebab, di tengah dunia yang serba otomatis, ruh perjuangan harus tetap manual: dengan hati, akal, dan semangat yang tak bisa diprogram.

Penulis: Al Fina ( Biro Media dan Jurnalistik PB KOPRI PMII)