Di Puncak Harlah ke-58, KOPRI PB PMII Deklarasikan Lima Komitmen Perjuangan
KOPRI.ID - Dalam momentum malam puncak peringatan Harlah KOPRI ke-58 yang bertepatan dengan Hari HAM Sedunia, Korps PMII Putri (KOPRI) PB PMII bersama seluruh PKC KOPRI se-Indonesia secara resmi membacakan Deklarasi Gerakan Nasional KOPRI, sebuah komitmen kolektif perempuan-perempuan muda PMII untuk memperkuat perlawanan terhadap kekerasan, korupsi, dan ketidakadilan struktural.
Pada rangkaian upacara yang berlangsung khidmat, Ketua KOPRI PB PMII, Wulan Sari, menegaskan bahwa deklarasi ini bukan hanya simbolisasi, melainkan tekad bersama untuk memasuki fase baru gerakan perempuan muda dalam tubuh PMII.
“Pada malam hari ini, dalam rangka malam puncak pergerakan Harlah KOPRI ke-58 dan mewarnai perjalanan sejarah di ujung 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, serta bertepatan dengan Hari HAM, kami membacakan Deklarasi KOPRI sebagai komitmen baru gerakan perempuan PMII,” ujar Wulan Sari dalam sambutannya.
Deklarasi ini disebutnya sebagai penanda lahirnya gelombang baru aktivisme perempuan PMII, yang lebih terorganisir, inklusif, dan responsif terhadap persoalan bangsa.
Isi Deklarasi KOPRI PB PMII dan PKC KOPRI se-Indonesia
Dengan penuh kesadaran dan komitmen gerakan, KOPRI menyatakan:
-
Melawan setiap bentuk penindasan dan kekerasan terhadap perempuan, serta memperkuat gerakan perlindungan, pendampingan, dan pemulihan penyintas di seluruh Indonesia.
-
Berkomitmen membangun gerakan anti korupsi melalui budaya organisasi yang akuntabel, transparan, dan inklusif.
-
Menegakkan nilai-nilai HAM dalam seluruh proses pendidikan kader, advokasi organisasi, dan gerakan sosial.
-
Memperkuat kepemimpinan perempuan di seluruh level PMII sebagai wujud afirmasi, emansipasi, dan kemandirian gerakan.
-
Membangun KOPRI yang berdaya, profesional, dan berintegritas untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan bermartabat.
Pembacaan deklarasi ini menandai perpaduan antara refleksi sejarah dan proyeksi masa depan gerakan. Momentum Harlah ke-58 disebut Wulan sebagai “penanda kedewasaan baru”, sementara Hari HAM menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kemanusiaan secara universal.
Kegiatan ini dihadiri seluruh pimpinan KOPRI tingkat nasional, provinsi (PKC), hingga rayon dan komisariat secara hybrid, menjadikannya salah satu konsolidasi terbesar KOPRI dalam beberapa tahun terakhir.
Wulan Sari menutup deklarasi dengan penegasan bahwa perjalanan panjang KOPRI tidak boleh berhenti pada simbolisasi acara semata. Gerakan perempuan muda, katanya, harus turun menyentuh akar persoalan bangsa.
“KOPRI harus menjadi ruang aman bagi perempuan, sekaligus ruang perjuangan yang tegas terhadap penindasan. Kita tidak boleh mundur. Inilah saatnya perempuan PMII berdiri di garda terdepan perubahan,” tegasnya.
Deklarasi ini diharapkan menjadi pedoman gerak nasional KOPRI PB PMII dan seluruh struktur hingga satu tahun ke depan.**