Bukan Sekadar Konten, Cara KOPRI Mengubah Media Digital Jadi Medan Perjuangan
KOPRI.ID - Salah satu organisasi perempuan terbesar di Indonesia KOPRI (Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Putri) bukan hanya wadah semata melainkan sebuah gerakan kolektif bersama.
KOPRI menjadikan media digital sebagai alat dan ruang untuk menyuarakan isu-isu perempuan dan anak serta sebagai refleksi.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, dunia kini hidup dalam rezim informasi yang nyaris tanpa henti. Realitas tak lagi hanya terbentuk oleh apa yang tampak, melainkan oleh narasi yang tersebar, dikonstruksi, dan dipertarungkan dalam ruang maya.
Media bukan lagi sekadar alat komunikasi, tapi telah menjelma menjadi kekuatan hegemonik yang membentuk kesadaran sosial, politik, dan budaya umat manusia termasuk perempuan.
Dalam konteks ini, Korps PMII Putri (KOPRI) berada di sebuah persimpangan sejarah antara menjadi penonton pasif dari digitalisasi atau menjadi pelaku aktif yang memanfaatkan ruang digital sebagai medan juang emansipatif.
Digitalisasi, sejatinya, bukan hanya revolusi teknologi, tetapi revolusi relasi kuasa terkait siapa yang berbicara, siapa yang didengar, dan siapa yang dinegasikan dari sejarah.
Filsafat Media: Antara Refleksi dan Intervensi
Martin Heidegger pernah memperingatkan bahwa teknologi bukanlah sekadar alat (instrumentalis), melainkan cara dunia “mengungkapkan dirinya” atau enframing. Ketika media digital menjadi refresentatif olah pikir manusia, ia tidak netral. Ia bisa membebaskan, tapi juga bisa menjerat.
Dalam konteks KOPRI, digitalisasi harus ditafsir sebagai alat refleksi dan intervensi. Refleksi, agar kader KOPRI menyadari posisi kulturalnya dalam jagat patriarki yang kini bermigrasi ke media sosial melalui bias algoritma, citra ideal perempuan yang terus dikomodifikasi, hingga banalitas perlawanan yang terjebak dalam aktivisme kosmetik (performative activism).
Intervensi, agar ruang-ruang digital tak dikuasai oleh narasi mayoritas yang maskulin dan dominatif, tapi diisi oleh semangat keadilan, kesetaraan, dan tools pengetahuan kritis perempuan progresif.
Digitalisasi dan Pergeseran Arah Gerakan
Kehadiran media digital menggeser medan juang gerakan perempuan. Tak lagi melulu di jalanan, tapi juga di ruang-ruang virtual, seperti Instagram, Twitter, TikTok, hingga YouTube.
Namun di sinilah tantangannya. Ketika semua menjadi konten kreator, perjuangan rentan direduksi menjadi “branding”, dan kader mudah terjebak pada simbolisme belaka. Spirit perjuangan yang sejatinya kontemplatif dan kolektif berubah menjadi viralitas instan dan personalisasi pengaruh.
KOPRI harus tetap waspada, media sosial tak jarang menjadi arena “kapitalisme atensi” yang menghisap energi kader ke dalam siklus narsisme digital atau sibuk membangun citra, tapi abai membangun struktur.
Dalam situasi inilah, pendekatan filosofis menjadi penting agar setiap unggahan bukan sekadar aksi digital, tapi bentuk artikulasi ideologis berdarkan proses dan kajian mendalam yang telah diupayakan.
Kritik Ideologis: Jangan Takluk oleh Narasi Pasar
Gerakan perempuan, khususnya KOPRI, harus mempertanyakan apakah kita sedang melawan patriarki, atau hanya menyesuaikan diri dengannya dalam bentuk baru?
Media massa dan digital kerap mengaburkan batas antara pemberdayaan dan penyesuaian. Perempuan diberi ruang bersuara, tapi tetap dibungkam oleh standar kapitalistik seperti harus cantik, sopan, tidak kontroversial, dan menghibur.
KOPRI tak boleh tunduk pada narasi pasar yang memaksa gerakan menjadi “ramah audiens” tapi kehilangan substansi.
Inilah pentingnya etika digital berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah untuk membentuk keberanian menyuarakan kebenaran dengan adab, keteguhan bersikap kritis tanpa kehilangan rahmah. Karena teknologi seharusnya hanya menjadi media publikasi, bukan malah menggantikan ideologi.
Strategi Perjuangan Digital: Dari Individu ke Kolektif
KOPRI harus memanfaatkan media digital bukan untuk mempersonalisasi pengaruh, melainkan membangun kesadaran kolektif.
Literasi digital menjadi senjata, bukan sekadar kemampuan teknis, tapi juga kesadaran politis tentang siapa yang kita lawan, siapa yang kita bela, dan mengapa.
Oleh karena itu, perlu dibangun ekosistem digital yang membentuk jejaring kader yang mampu memproduksi konten kritis, mengedukasi publik, dan merespons isu-isu keperempuanan dan sosial dari sudut pandang Islam progresif. Platform KOPRI harus menjadi laboratorium ide dan dialektika, bukan sekadar etalase kegiatan.
Maka dari itu, kemajuan media dan digitalisasi menjadi medan progresif bagi gerakan perempuan. Tapi medan ini tak netral. Ia bisa memperkuat suara kita, atau malah mengaburkan makna perjuangan.
Di titik inilah KOPRI harus hadir bukan sekadar ikut tren, tapi membentuk arah. Bukan sekadar tampil, tapi menafsir ulang peran perempuan Muslim dalam arus zaman.
Karena di balik setiap klik, ada ideologi yang dipertaruhkan. Dan di balik setiap unggahan, ada masa depan gerakan yang harus dijaga.
Penulis: Sarah Annisya Nurfauziah (Ketua PC KOPRI Ciamis)