Bukan Elit Politik, Inilah yang Disebut Penyelamat Demokrasi Menurut KOPRI PB PMII
KOPRI.ID - Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP) menggelar diskusi publik dalam rangka memperingati Hari Demokrasi Internasional 2025 dengan tema “Demokrasi di Mata Perempuan: Menuju ke Jurang atau Ada Peluang?” secara hybrid, Jumat (26/9).
Acara ini menghadirkan berbagai tokoh perempuan lintas bidang. Keynote speech disampaikan oleh Wakil Ketua DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Sementara itu, deretan pembicara yang turut hadir di antaranya Ketua Umum KOPRI PB PMII, Kalis Mardiasih (penulis), Wulan Sari Aliyatul Solikhah (aktivis mahasiswa sekaligus ketua KOPRI PB PMII), Melanie Subono (aktivis dan seniman), Neng Eem Marhamah (Ketua Fraksi PKB MPR RI), Afni Zulkifli (Bupati Siak), serta Emilia Nomleni (Ketua DPRD Provinsi NTT).
Dalam forum tersebut, Ketua Umum KOPRI PB PMII Wulan Sari menekankan pentingnya partisipasi perempuan dalam ruang demokrasi. Ia menegaskan, tanpa keterlibatan perempuan, demokrasi akan timpang.
“Ruang demokrasi tanpa adanya perempuan yang berdaya dan kritis, hanya akan menciptakan setengah demokrasi atau demokrasi yang pincang,” ujarnya.
Wulan melanjutkan dengan menyoroti fenomena krisis kepercayaan yang dialami anak muda, terutama generasi Z yang justru semakin berani menantang status quo melalui media sosial.
“Banyak anak muda menggunakan simbol-simbol seperti bendera One Piece untuk menunjukkan kebebasan berpikir dan berdemokrasi. Mereka tidak lagi takut tekanan politik. Semakin ditekan, justru semakin bersuara,” kata Wulan.
Ia juga menyinggung ketimpangan sosial yang memicu kemarahan generasi muda di berbagai negara, salah satunya Nepal. Menurutnya, generasi Z menolak gaya hidup yang penuh privilese atau nepotisme yang ditunjukkan oleh kelompok tertentu.
“Kemarahan anak muda lahir ketika akses mereka terhadap media sosial dibatasi, sementara mereka melihat anak-anak pejabat hidup jauh berbeda dari rakyat. Itu menumbuhkan kecemburuan sekaligus memperkuat kesadaran politik mereka,” ungkapnya.
Wulan Sari menambahkan, generasi muda saat ini tidak hanya peka terhadap isu sosial dan politik, tetapi juga mampu menunjukkan kompetensi, termasuk dengan memanfaatkan ruang digital.
“Anak-anak muda kita sangat melek politik. Mereka ingin didengar, difasilitasi, bukan diajari bagaimana jadi anak muda. Justru peran senior adalah memberi ruang dan mendukung gerakan mereka,” ucapnya.
Diskusi publik ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa demokrasi bukan hanya milik elit politik, melainkan juga harus menjangkau perempuan dan generasi muda. Para pembicara sepakat, demokrasi yang sehat hanya bisa terwujud jika ruang partisipasi terbuka luas tanpa diskriminasi gender maupun generasi.**