Badai Protes di Majalengka! PMII Tuding Kapolres Abai, Siap Aksi Jilid II
KOPRI.ID – Suasana di Kabupaten Majalengka kembali memanas menyusul aksi demonstrasi yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Majalengka, Jumat (29/8).
Aksi tersebut merupakan bentuk protes keras atas dugaan tindakan represif aparat kepolisian yang diduga menjadi penyebab gugurnya Affan Kurniawan dalam tragedi 28 Agustus lalu.
Bagi massa aksi, kejadian ini bukan hanya duka mendalam, tetapi juga menegaskan kembali luka lama masyarakat terhadap praktik represif aparat yang seolah berulang dari waktu ke waktu.
Dalam orasinya, para demonstran menegaskan bahwa rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Aparat, kata mereka, seharusnya menjalankan fungsi sebagai pengayom, bukan justru menjadi ancaman bagi warga sipil.
Mereka mengajukan sejumlah tuntutan tegas, antara lain:
1. Mengawal proses penegakan hukum sesuai aturan yang berlaku.
2. Mendesak pencopotan Kapolri dari jabatannya.
3. Mendesak pencopotan Kapolda Metro Jaya tanpa syarat.
4. Menuntut Polres Majalengka menghentikan segala bentuk tindakan represif terhadap masyarakat.
5. Mengingatkan Polres Majalengka untuk kembali pada fungsi utama sebagai pelindung rakyat.
Sayangnya, tuntutan tersebut dinilai tidak mendapat respons serius. Kapolres Majalengka dituding bersikap elitis dan abai terhadap penderitaan rakyat, sehingga mempertebal kekecewaan publik.
Deni Ahmad Gozali selaku ketua PC PMII Majalengka kondisi ini menjadi catatan kelam bagi Majalengka.
“Bagaimana mungkin seorang pemimpin penegak hukum bersikap dingin di tengah penderitaan rakyat? Ini sejarah hitam bagi Majalengka,” ujar deni.
Kekecewaan massa kian menguat. PMII Majalengka menegaskan komitmennya untuk melanjutkan aksi dengan skala lebih besar apabila tuntutan tidak segera dipenuhi.
Mereka juga berencana mengajak berbagai elemen masyarakat untuk bergabung dalam gerakan bersama menuntut keadilan.
“Aksi ini bukan hanya perjuangan mahasiswa, tetapi perjuangan rakyat. Kami akan terus melawan ketidakadilan sampai aparat benar-benar berpihak pada kemanusiaan,” tegas pimpinan aksi.
Gelombang protes ini diperkirakan tidak akan berhenti di Majalengka saja. Publik kini menanti langkah konkret dari kepolisian, demi memastikan tragedi serupa tidak kembali terulang.**