Adaptasi Bunglon Ala Raffi Ahmad dan KOPRI : Generasi Muda Harus Bisa Adaptasi, Tapi Jangan Lupa Warna Sendiri!
KOPRI.ID - Dalam forum Indonesia Summit 2025 yang digelar oleh IDN Times di Jakarta (27/8), Utusan Khusus Presiden Bidang Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad menyampaikan terkait generasi muda khususnya Gen Z dan milenial untuk menjadi “bunglon”, yakni kemampuan beradaptasi dengan perubahan dan keterbatasan lapangan pekerjaan. Ia menekankan pentingnya kreativitas, keberanian memulai usaha, dan sikap tidak takut gagal sebagai kunci kesuksesan.
Tentu saja pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kesuksesan bukan semata soal penghasilan, melainkan soal keberanian belajar, kreativitas, dan kemampuan memberi dampak positif. Ia mendorong anak muda untuk berani memulai usaha, sekecil apa pun, serta tidak takut gagal. Pesan ini menggema di telinga banyak anak muda, termasuk mereka yang terlibat di organisasi mahasiswa seperti KOPRI (Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri).
Adaptasi dalam Perspektif Sosial
Secara teoritis, apa yang disampaikan oleh utusan Khusus Presiden Bidang Generasi Muda dan Pekerja Seni tersebut selaras dengan konsep adaptasi sosial Talcott Parsons seorang Antropologi sosial dalam teori struktur fungsional yang berdasarkan tindakan sosial yang menekankan bahwa individu maupun kelompok harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan struktur sosial demi bertahan. Di era ekonomi digital, adaptasi berarti menguasai keterampilan baru, membaca peluang, dan menavigasi perubahan dengan cepat.
Namun, di ruang-ruang diskusi KOPRI, adaptasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan bertahan hidup. Ada lapisan lain yakni kesadaran kritis, berdikari dan juga berdaya saing.
Bagi KOPRI, perempuan muda tidak boleh sekadar menjadi “bunglon” yang meniru warna lingkungan, tetapi juga harus punya keberanian untuk menghadirkan warna baru melalui ide dan gagasan bahkan aksi nyata menuju perubahan secara bertahap, inilah esensi adaptasi yang transformatif.
Adaptasi Tanpa Kehilangan Identitas
Sering kali, “jadi bunglon” disalahpahami sebagai hilangnya jati diri karena hanya meniru dan terjadilah Fear of Missing Out atau fomo yakni kekhawatiran karena tertinggal akan informasi penting yang terjadi karena media sosial sehingga terpaksa agar tidak tertinggal dan tak bilang ketinggal tren maka asal mengikuti . Padahal, yang dimaksud Raffi Ahmad tersebut jelas lebih dekat pada fleksibilitas.
Dalam kerangka feminisme kritis yakni mengajarkan Perempuan untuk menyadari akan haknya, jadi tidak hanya mengikuti arus saja. Tetapi, juga mampu mempertanyakan dan memahami ketidakadilan ada yang disekitarnya. Bukan berarti menentang laki-laki atau melawan agama, akan tetapi lebih kepada untuk menguatkan Perempuan agar bisa mandiri, kritis dan juga tetap bersuara.
KOPRI menegaskan bahwa adaptasi tidak boleh membuat perempuan larut dalam arus tanpa arah. Justru sebaliknya, adaptasi harus berpijak pada nilai Ahlisunnah Wal Jamaah dengan prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), I’tidal (adil tanpa pandang bulu dan status sosial) dan tasamuh (toleransi).
Dalam feminisme kritis ini mengajarkan bahwa Perempuan boleh kritis, berani mengambil Keputusan dan menyuarakn haknya, tetapi dalam koridor kebaikan dan prinsip ideologi organisasi KOPRI Ashilusnnah Wal Jamaah. Dengan begitu, adabtasi ala “bunglon” tidak membuat Perempuan kehilangan identitasnya, melah sebaliknya menjadi sosok yang kreatif, Tangguh dan berdaya sekaligus moderat dan bermoral.
Oleh karena itu, Kader KOPRI dilatih untuk fleksibel, tetapi tetap berpijak pada prinsip perjuangan. Dengan demikian, adaptasi bukan berarti kompromi buta, melainkan strategi untuk menegaskan identitas dalam situasi yang terus berubah.
Kreativitas dan Kemandirian Ekonomi
Raffi Ahmad juga menekankan pentingnya usaha kecil yang bisa tumbuh jika ditekuni. KOPRI pun melihat ini sebagai bagian dari agenda aksi nyata untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Dalam perspektif Pierre Bourdieu bahwa modal ekonomi memang penting, tetapi modal sosial dan modal budaya sering kali menentukan arah perubahan. Kreativitas, jaringan solidaritas, dan keberanian perempuan untuk mengisi ruang ekonomi digital menjadi bukti bahwa generasi muda tidak sekadar bertahan, tetapi juga mampu menciptakan.
Kegagalan sebagai Proses Belajar
“Jangan takut gagal,” pesan Raffi. Pernyataan ini sejalan dengan teori experiential learning David Kolb yang menempatkan pengalaman baik sukses maupun gagal sebagai sumber utama pembelajaran atau yang biasa kita dengar "pengalaman adalah guru terbaik". Memahami bahwa setiap kegagalan sering dimaknai sebagai latihan resilien. Jatuh, bangkit, mencoba ulang itulah siklus yang melahirkan ketangguhan.
Kolektivitas sebagai Catatan Kritis
Namun, ada satu hal yang barangkali luput dari narasi Raffi Ahmad, yakni pentingnya kolektivitas. Adaptasi sering dipahami secara individualistik, seolah kesuksesan hanya ditentukan oleh kerja keras personal. Padahal, KOPRI mencoba untuk mewujudkan bahwa perempuan muda tidak bisa berjuang sendirian. Solidaritas, gotong royong, dan perjuangan kolektif adalah fondasi agar adaptasi tidak hanya menjadi strategi survival, tetapi juga menciptakan transformasi sosial.
Jadi, pada apa yang disampaikan oleh Raffi Ahmad untuk jadi “bunglon” adalah pengingat penting bagi generasi muda di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, dalam kacamata KOPRI adaptasi tidak boleh berhenti pada fleksibilitas personal. Ia harus dibarengi dengan kesadaran kritis, solidaritas, dan keberanian mengubah struktur yang timpang.
Karena pada akhirnya, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi muda yang pandai menyaru seperti bunglon, tetapi generasi yang berani memberi warna baru. Bunglon yang sejati bukan hanya yang mampu bertahan, melainkan yang mampu mengubah lanskap sosial di sekitarnya.
Penulis : Al Fina ( Anggota Bidang Media KOPRI PB PMII)